Sebanyak 64,5% dari 154,079 siswa SMA/SMK, yang tidak lulus Ujian Nasional harus mengulang satu mata pelajaran. Ternyata Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang paling banyak diulang oleh siswa. Pernyataan itu dikatakan oleh Mendiknas Muh. Nuh (SM,27 April 2010). Selain itu, banyaknya siswa SMP di Jawa-Tengah yang tak lulus ujian nasional cukup mencengangkan banyak kalangan. Ironisnya, sebagian besar diantaranya tak lulus pada mata pelajaran Bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional (SM, 17 Mei 2010).
Apakah sudah tidak penting lagi berbahasa Indonesia ? Mungkin ini pendapat sebagian kecil masyarakat, yang sudah tidak lagi mempunyai jiwa nasionalisme. Bahasa Indonesia yang hanya dipandang sebelah mata, berangsur-angsur akan kehilangan jati diri. Sementara Jepang dan China bisa menguasai sebagian perekonomian dunia karena dengan bahasa mereka sendiri. Bangsa China dan Bangsa Jepang adalah bangsa yang paling jelek menggunakan bahasa inggris. Lain lagi Bangsa Indonesia, yang memuja-muja bahasa asing yang salah satunya Bahasa Inggris, malahan membuat perekonomian amburadul. Banyak lulusan sarjana menjadi penggangguran dan para penegak hukum tidak bisa membaca dengan benar Kitab Undang-Undang Hukum Perdata/Pidana (KUHP).
Diperparah lagi, di beberapa sekolah favorit atau Rintisan Sekolah Berstandard Internasional (RSBI), dalam menjaring siswa baru selalu mewajibkan calon siswa bisa Berbahasa Inggris dengan baik. Siswa yang tidak bisa Berbahasa Inggris dilarang ikut mendaftar sekolah RSBI. Dalam proses pembelajaran di semua mata pelajaran, RSBI menggunakan komunikasi Bahasa Inggris. Sekolah yang demikian ini menganggap Bahasa Inggris lebih penting daripada Bahasa Indonesia. Pemujaan bahasa asing dalam pendidikan tidak akan membuat bangsa kita bisa percaya diri. Justru akan berkibat menjadi bangsa yang selalu ketergantungan dengan bangsa asing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar